Prinsip Investasi Emas dalam Islam yang Diperbolehkan

Prinsip Investasi Emas dalam Islam yang Diperbolehkan

Investasi emas dalam Islam termasuk salah satu jenis penanaman modal yang diperbolehkan. Pasalnya, instrumen ini memiliki nilai yang lebih stabil sehingga jauh dari unsur spekulasi seperti pada saham atau forex.

Dalam jangka panjang, nilai logam mulia ini cenderung mengalami kenaikan meskipun marginnya kecil. Itulah sebabnya instrumen ini jauh lebih aman dibanding instrumen investasi lain yang cenderung memiliki fluktuasi harga tinggi.

Seiring perkembangannya, investasi emas kini juga bisa dilakukan secara digital. Proses pembeliannya juga bisa dicicil atau melalui sistem kredit. Lantas, bagaimana pandangan Islam tentang ini? Berikut ulasan singkatnya!

Prinsip Investasi Emas dalam Islam

Di dalam Islam, ada sejumlah prinsip yang harus dipenuhi agar investasi emas terhitung halal dan diperbolehkan. Jika prinsip-prinsip tersebut tidak terpenuhi, maka gugurlah keberkahan dari investasi yang dijalankan. Adapun beberapa prinsip investasi emas dalam Islam, meliputi:

  1. Jual beli harus dilakukan secara tunai atau kontan (yadan bi yadin/hulul).
  2. Jual beli harus dilakukan dengan barang yang sepadan, yaitu sama takaran dan timbangannya (tamatsul).
  3. Harus terjadi serah terima barang secara langsung dan tidak boleh terjadi penundaan penyerahan barang (taqabudl).

Itulah ketiga prinsip utama dalam melakukan transaksi emas dalam Islam. Jika dilihat dari poin-poin di atas, pembelian secara kredit akan bertentangan dengan prinsip syariah karena tidak dilakukan secara tunai.

Meski begitu, terdapat fatwa MUI No. 77/DSN-MUI/2010 terkait proses jual beli emas secara tidak tunai atau kredit. Fatwa ini dikeluarkan melalui Dewan Syariah Nasional dengan beberapa ketentuan sebagai berikut:

  1. Investasi emas dalam Islamboleh dilakukan secara tidak tunai (mubah, ja’iz) melalui skema jual beli biasa atau murabahah asalkan instrumen tersebut tidak dijadikan sebagai alat tukar.
  2. Pembelian emas yang dilakukan secara tidak tunai boleh digunakan sebagai jaminan (rahn).
  3. Selama jangka waktu perjanjian kredit atau cicilan, harga instrumen tidak boleh bertambah sekalipun terjadi perpanjangan waktu jatuh tempo.
  4. Jika instrumen yang dimaksud pada poin 2 di atas sudah dijadikan jaminan, maka tidak boleh diperjualbelikan atau dijadikan objek akad transaksi lain.

Adanya fatwa di atas sekaligus menjawab keraguan sebagian umat muslim tentang sistem investasi emas. Dengan begitu, skema menabung secara kredit termasuk investasi emas dalam Islam yang diperbolehkan dengan syarat tertentu.

Pendapat Sebagian Besar Ulama Tentang Kredit Emas

Meski MUI sudah mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan pembelian emas secara kredit, tetapi sebagian besar ulama tetap melarang dan mengharamkannya lantaran ada unsur riba di dalamnya.

Melakukan pembelian secara kredit berarti terjadi penundaan penyerahan barang sehingga ada unsur riba nasi’ah di sana. Sedangkan dalam prinsip syariah, pembelian barang ribawi harus dilakukan secara kontan (terjadi serah terima barang).

Jika dilihat lebih lanjut, letak perbedaan ini terdapat pada bagaimana kita menyikapi logam mulia ini. Jika emas dianggap sebagai alat tukar, maka hukum melakukan jual beli secara kredit menjadi haram.

Di sisi lain, jika emas dianggap sebagai komoditi atau barang dagangan, maka transaksi jual beli secara kredit dianggap sah dan diperbolehkan. Akan tetapi, pelaksanaannya harus sesuai dengan syarat di atas.

Cara Investasi Emas dalam Islam yang Diperbolehkan

Pada dasarnya, investasi emas dengan sistem pembelian kontan adalah hal yang diperbolehkan menurut syariah. Hal itu tidak menjadi masalah jika memenuhi ketiga prinsip di atas.

Baca juga:  Broker Forex Syariah Cocok Bagi Pemain Anti Riba

Dari apa yang sudah kita bahas, investasi pada instrumen ini secara syariah bisa dilakukan dengan cara berikut:

  1. Melalui Skema Penitipan

Cara investasi emas dalam Islam yang pertama adalah menggunakan skema cicilan dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dalam hal ini, nasabah boleh menunjuk perwakilan untuk melakukan jual beli.

Nantinya, nasabah bisa menitipkan atau menyimpan emas kepada pihak yang telah ditunjuk. Dengan begitu, transaksi jual beli tetap memperhatikan proses serah terima barang dengan wujud yang jelas.

Selain itu, emas yang sudah dibeli tentu saja bisa dikuasai atau diambil oleh nasabah sesuai dengan kesepakatan. Jika menggunakan skema murabahah, secara prinsip logam mulia tersebut sudah harus dimiliki oleh penjual.

Cara ini berlaku jika emas tidak dianggap sebagai alat tukar atau dengan kata lain berupa komoditi yang bisa diperjualbelikan.

  1. Pembelian Kredit Sesuai Ketentuan MUI

Seperti penjelasan di atas, pembelian kredit berdasarkan ketentuan MUI harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa ketentuan di atas. Pertama, emas harus diakui sebagai komoditi dan bukan alat tukar.

Selanjutnya, logam mulia yang akan dicicil bisa dijadikan jaminan. Apabila sudah dijadikan jaminan, maka tidak boleh diperjualbelikan. Lalu, harga instrumen tersebut tidak boleh bertambah selama masa perjanjian.

Dengan memenuhi syarat-syarat di atas, jual beli secara kredit tetap dianggap sah dan dibolehkan. Dengan begitu, Anda bisa melakukan pembelian sesuai dengan kemampuan finansial saat ini.

Skema Investasi Emas dalam Islam

Dari pembahasan di atas, tentu Anda sudah bisa menyimpulkan bagaimana instrumen ini ditransaksikan sesuai dengan ketentuan Islam. Agar semakin jelas, silahkan simak skema transaksinya berikut ini:

  1. Pertama, Anda melakukan pembelian secara tunai/kredit sesuai ketentuan yang berlaku.
  2. Proses serah terima logam mulia ini dilakukan antara penjual dan pihak yang ditunjuk sebagai perantara. Nantinya, pihak perantara akan menyimpannya sesuai dengan kesepakatan.
  3. Logam mulia yang diperdagangkan harus berwujud, jelas ukuran beratnya, jelas harganya, jelas juga kadar karatnya.
  4. Setelah pembelian dilakukan, nasabah berhak mengambil, menguasai, serta memiliki instrumen tersebut.

Dengan memperhatikan sejumlah ketentuan di atas, transaksi emas bisa dilakukan secara tunai maupun kredit. Dalam praktiknya, Anda bisa memilih pendapat investasi emas dalam Islam mana yang akan diyakini.