Pengawet Digunakan dalam Pembuatan Bahan Makanan Karena Apa?

Pengawet digunakan dalam pembuatan bahan makanan karena seseorang akan menyimpan memiliki kebiasaan menyimpan makanan berhari-hari, entah karena belum habis atau yang lainnya.

 

Pemakaian pengawet pada makanan bertujuan untuk mengawetkan makanan. Selain itu, pengawet bisa mencegah adanya kontaminasi dan tumbuhnya mikroorganisme pada makanan.

 

Pengawet Digunakan dalam Pembuatan Bahan Makanan Karena?

 

Ternyata pengawet dapat membantu untuk mencegah makanan dari kontaminasi dan tumbuhnya mikroorganisme.

 

Contohnya seperti bakteri, jamur, dan mikroorganisme yang sifatnya patogen. Mikroorganisme tersebut bisa menurunkan kualitas dari makanan, membuat makanan jadi busuk, sehingga menjadi sumber penyakit.

 

Pengawet digunakan dalam pembuatan bahan makanan karena bentuk pencegahan dari kerusakan makanan akibat faktor luar. Contohnya akibat parasit, serangga dan kerusakan mekanis.

 

Adanya pengawet pada makanan membuat makanan bisa disimpan untuk waktu yang cukup lama. Bahan pengawet yang dipakai nantinya mempengaruhi kondisi dari bakteri dan cara kerja enzim.

 

Seperti adanya perubahan pada pH dan kondisi lainnya, sehingga mencegah adanya proses pembusukan pada makanan.

 

Jenis Bahan Pengawet pada Makanan

 

Saat ini ada bermacam bahan pengawet mulai dari yang alami sampai yang kimia. Bahkan, ada beberapa bahan pengawet yang berbahaya dan dilarang untuk digunakan. Berikut penjelasannya:

 

1. Bahan Pengawet yang Aman

 

Beberapa jenis bahan pengawet boleh saja digunakan pada makanan, asalkan bahan pengawet tersebut telah terdaftar dan telah mendapatkan izin untuk pemakaian dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

 

Berikut beberapa jenis bahan pengawet makanan yang aman dan diperbolehkan penggunaannya:

 

  • Asam sorbat
  • Asam tartarat
  • Sulfur dioxide
  • Asam benzoat
  • Asam malat
  • Sorbitol

 

2. Bahan Pengawet yang Berbahaya

 

Sedangkan untuk bahan pengawet yang berbahaya dan tidak disarankan pemakaiannya dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

 

a. Sodium Benzoat

 

Sebagian orang masih ada yang memakai sodium benzoate sebagai bahan pengawet makanan. Padahal jenis pengawet satu ini bisa meningkatkan risiko leukemia, perilaku hiperaktif, dan kanker jenis lain secara pesat.

 

b. TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone)

 

Jenis pengawet makanan TBHQ dapat meningkatkan beberapa risiko jika dikonsumsi seperti gangguan fungsi organ hati dan merusak sistem saraf.

 

c. Boraks dan Formalin

 

Bahan pengawet boraks dan formalin bisa menyebabkan gangguan jantung, ginjal, sistem pernapasan, dan kulit. Bahkan dua jenis pengawet ini dapat merusak sistem saraf dan otak.

 

d. Sodium Nitrate

 

Terakhir ada sodium nitrate, dimana jika pengawet ini dikonsumsi bisa merusak pembuluh darah dan membuat arteri jadi menyempit dan kaku.

 

Fakta Bahan Pengawet pada Makanan

 

1. Makanan yang Sudah Diawetkan Lebih Baik daripada Makanan yang Tidak Diawetkan

 

Proses pengawet digunakan dalam pembuatan bahan makanan karena bisa membuat makanan tetap berkualitas, bernutrisi, bermutu, dan aman dikonsumsi setiap saat.

 

Bayangkan jika bahan makanan seperti daging atau ikan yang dibeli di pasar, tapi tidak langsung dimasukkan ke kulkas atau diolah secara diasap, dikeringkan dan diasinkan.

 

Dalam waktu sebulan, seminggu, bahkan cuma satu atau dua hari, bahan makanan daging atau ikan tersebut pasti sudah tidak layak dimakan. Bisa karena sudah busuk, bau, atau munculnya lendir.

 

Kerusakan pada makanan disebabkan adanya jamur, bakteri, serangga dan lainnya. Maka disinilah peran bahan pengawet diperlukan untuk menjaga kualitas dan penampilan makanan.

 

3. Tidak Semua Proses Pengawetan Berefek Buruk pada Kesehatan

 

Tujuan awal adanya bahan pengawet yaitu untuk memperpanjang waktu kadaluarsa pada makanan, menjaga penampilan makanan, dan meningkatkan aroma.

 

Hampir semua orang meragukan keamanan dari bahan pengawet. Padahal tidak semua bahan pengawet berbahaya untuk kesehatan. Ada bahan pengawet alami yang diperbolehkan dan aman digunakan yaitu garam, gula, bawang putih, dan asam.

Baca juga:  Kuat dan Lemahnya Bunyi dalam Lagu Disebut? Ini Jawabannya

 

4. Hampir Semua Proses Pengawetan Tidak Pakai Bahan Kimia

 

Proses pengawetan terdapat dua macam yaitu proses pengawetan secara fisik (pemanasan, pengeringan, pembuatan acar, pengentalan, pembuatan tepung, pendinginan, dan pengasapan).

 

Lalu ada proses pengawetan secara kimia dan biologi (penambahan enzim, pengasinan, pemanisan, dan penambahan bahan kimia seperti nitrit, asam sitrat dan lainnya).

 

5. Bahan Pengawet pada Makanan Kalengan

 

Proses pengalengan merupakan salah satu cara pengawetan bahan makanan dalam bentuk kemasan hermetis yang kedap udara, mikroba, air, dan beda asing lainnya.

 

Lalu proses pengalengan berlanjut ke proses steril untuk membunuh mikroba patogen dan pembusuk.  Dengan proses ini, memungkinkan bahan makanan bisa terhindar dari perubahan kadar air, kebusukan, kerusakan karena oksidasi dan perubahan rasa dalam waktu tertentu.

 

Sebenarnya dengan pengemasan hermetis ini membuat bahan makanan kalengan tidak membutuhkan bahan pengawet tambahan. Namun, beberapa produk ada yang memakai medium berupa cairan seperti larutan gula untuk pengalengan buah.

 

Fungsi medium ini (larutan gula) bisa membantu mengawetkan makanan, tapi sebenarnya penambahan medium bisa mempercepat penetrasi panas dan berkurangnya korosi kaleng.

 

Salah satu hal yang perlu dikhawatirkan jika mengkonsumsi makanan kalengan adalah jumlah kandungan gula yang dilarutkan pada satu makanan kaleng.

 

6. Proses Pengawetan pada Frozen Food dan Fast Food

 

Frozen food adalah makanan beku yang praktis untuk dimasak dan siap masak walaupun sudah disimpan berhari-hari. Proses pembekuan pada frozen food adalah cara alami untuk mengawetkan makanan dan makanan bisa tahan sampai berbulan-bulan.

 

Namun perlu diketahui bahwa akibat proses pembekuan tersebut membuat sedikit perubahan pada karakteristik dan nutrisi jika dilakukan dengan benar. Proses pengawetan satu ini tidak membutuhkan bahan pengawet tambahan, karena hanya membutuhkan suhu rendah atau beku.

 

Proses pembekuan ini tidak membuat hilangnya nutrisi penting. Tapi, perlu diperhatikan tentang tempat penyimpanannya dan bahan yang sudah dicairkan sebaiknya jangan dibekukan kembali.

 

Sebab bisa berpotensi munculnya mikroorganisme pembusukan padahal sebelumnya mikroorganisme tersebut tidak aktif karena disimpan di suhu rendah.

 

7. Proses Pengawetan pada Ikan Asin

 

Garam dapur (NaCl) memiliki fungsi sebagai pembentuk citarasa pada makanan jika dalam konsentrasi rendah. Jika dalam konsentrasi tinggi, garam bisa digunakan untuk pengawetan telur, ikan, dan makanan lainnya.

 

Pemakaian garam untuk bahan pengawetan bisa meningkatkan jangka waktu penyimpanan ikan dan jenis produk daging lebih lama. Sebab pemakaian garam berfungsi untuk perisai dari mikroba, bisa melindungi makanan dari ragi dan jamur.

 

Untuk proses pengawetan memakai garam tersebut dinamakan dengan proses pengasinan atau penggaraman. Salah satu makanan yang dihasilkan dari proses penggaram ini adalah ikan asin. Ikan asin dapat disimpan selama berhari-hari atau berminggu-minggu.

 

Namun, perlu diperhatikan kadar garam yang digunakan. Karena jika terlalu banyak mengkonsumsi garam bisa menyebabkan munculnya penyakit hipertensi atau darah tinggi. Jadi sebelum konsumsi ikan asin, sebaiknya cuci dulu ikan asin pakai air bersih untuk mengurangi kandungan garam.

 

 

Disarankan untuk memeriksa dulu komposisi pada makanan, perlu pengecekan apakah makanan tersebut memakai jenis bahan pengawet yang aman dikonsumsi atau bahan pengawet yang berbahaya.

 

Perlu diingat kalau bahan pengawet digunakan dalam pembuatan bahan makanan karena membantu untuk pencegahan kerusakan pada makanan, bukan menimbulkan kerusakan pada tubuh. Jadi perlu pengecekan ulang jika ingin konsumsi makanan apapun.